Menyatukan Alam dan Manusia, Saur Marlina Manurung

Menyatukan Alam dan Manusia, Saur Marlina Manurung

hati-suku-pedalaman-butet-manurung

Apakah Teman Mineola pernah mendengar Sekolah Rimba? Kalau kamu pernah menonton Sokola Rimba, maka itulah Sekolah Rimba yang dimaksud. Saur Marlina Manurung (sering disebut Butet Manurung) mendapatkan berbagai penghargaan atas jasanya mendidik pedalaman-pedalaman di Indonesia. Mari kita simak kisah menyatukan alam dan manusia, Saur Marlina Manurung kali ini.

Butet Manurung adalah seorang wanita yang tumbuh besar di kota dan berpendidikan. Ia menempuh pendidikan Antropologi dan Sastra Indonesia di Universitas Padjajaran. Mulai sejak kuliah, Butet menyempatkan dirinya untuk mengajar alat musik organ dan matematika. Dari recehan tersebutlah dikumpulkannya untuk hobinya naik gunung.

saur-marlina-manurung-naik-gunung

Setelah lulus dari kuliahnya, Butet memilih bekerja dekat dengan sesuatu yang berhubungan dengan alam. Ia pun memulai karirnya sebagai pemandu wisata Taman Nasional Ujung Kulon. Pekerjaan itu terasa membosankan dan tidak sesuai dengan hatinya.

Saat menyusuri pedalaman di Indonesia, Butet Manurung tidak tega membiarkan bagaimana suku pedalaman sering ditipu dan dimanfaatkan karena dianggap bodoh dan miskin.

Kemudian Butet Manurung melihat lowongan sebagai fasilitator pengajar di pedalaman suku Jambi Orang Rimba dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warung Informasi Konservasi (Warsi) LSM yang memberikan perhatian lebih terhadap isu konservasi hutan di Pulau Sumatra.

Karir Menjadi Guru Rimba

Butet Manurung bergabung dengan Warsi tahun 1999 dan meneruskan program pendidikan alternatif orang rimba yang sebelumnya disusun oleh Yusak Adrian Panca Pangeran Hutapea. Setahun yang lalu Yusak mendapat berbagai penolakan dari suku pedalaman itu sendiri karena persepsi terhadap pendidikan dapat membawa petaka. Namun perlahan Yusak dapat mendapatkan hati suku pedalaman dan mengajar Orang Rimba sebelum akhirnya meninggal pada Maret 1999 karena malaria.

saur-marlina-butet-manurung

Butet memulai sekolah pertamanya di Bernai, Makekal Hilir dan mempunyai murid sebanyak 3 orang. Awalnya masih terjadi penolakan dari suku asli pedalaman, tetapi kemudian kemampuan baca tulis menjadi hal yang wah dan hebat, dianggap setara dengan kemampuan berburu. Saat itulah masyarakat suku pedalaman bersikap membiarkan, menyerahkan kepada anak mereka apakah ingin belajar atau tidak di sekolah.

Sekolah rimba berkembang ke wilayah lain, ke Taman Nasional Bukit Duabelas. Murid-murid yang sudah bisa membaca, menulis dan berhitung turut membantu membuka akses ke wilayah lainnya yang belum mengenal pendidikan.

Butet pun mengembangkan metode pengajaran sambil bermain sesuai dengan adat dan cara hidup Orang Rimba. Setelah 4 tahun menjadi guru rimba, Butet mengundurkan diri dan mendirikan lembaga swadaya masyarakat yang memusatkan perhatian terhadap pendidikan bagi suku terasing.

Sokola Rimba

Tahun 2003, Butet dan 5 rekannya mendirikan Sokola Rimba yang memiliki slogan "Pendidikan untuk Masyarakat Adat." Sokola Rimba yang pertama didirikan di pedalaman hutan tropis Jambi dan mengajar suku Anak Dalam. Butet menggunakan metode antropologis dalam pembelajarannya.

"Tantangan membuat sekolah rimba itu adalah tidak dapat dipercaya. Itu karena kita orang luar dan jarang melihat perempuan jalan sendiri ke rimba." Kata Butet.

guru-rimba-butet-manurung

Stigma perempuan yang jalan dengan laki-laki yang berbeda-beda dianggap sebagai perempuan nakal juga merupakan tantangan lain bagi Butet.

Sokola Rimba terus mengembangkan sayap di berbagai suku terasing di Indonesia, seperti Pulau Besar, Flores NTT, suku Asmat Papua, Sikka, Aceh, Halmahera, Klaten, suku Kajang Sulawesi Selatan dan masih banyak lagi.

Yayasan Sokola juga didirikan dengan tujuan tidak hanya pendidikan, juga memberikan advokasi untuk masyarakat setempat dapat menyelesaikan masalah yang terjadi.

Raih Berbagai Penghargaan

Konsistensi dan jiwa pahlawan seorang Saur Marlina Manurung mencuri perhatian Indonesia hingga dunia. Dari tahun 2001 hingga 2014, sudah 7 penghargaan yang diborong.

penghargaan-butet-manurung

Mulai dari UNESCO's Man & Biosphere Award (2001), TIME Magazine's Heroes of Asia (2004), Ashoka Fellow (2006), Asia Young Leader (2007), Young Global Leader (2009), Ernst & Young Indonesian Social Entrepreneur of The Year (2012) dan Asia Nobel Prize Ramon Magsaysay Award (2014).

Berikut adalah kutipan dari Saur Marlina Butet Manurung:

"Sebagai perempuan jadilah diri sendiri. Jangan sampai di usia 70 tahun baru menyesal. Buat saya keren itu, bisa melakukan sesuatu yang kita cintai."

 

Ke depannya pasti akan ada artikel-artikel menarik dan insightful lainnya. Jadi subscribe Newsletter Mineola dan ikuti sosial media Mineola yaa.

Subscribe here.

FacebookInstagramPinterest.


1 comment


  • andry

    thanks min


Leave a comment