Menolong Tanpa Pamrih, Sosok Inspiratif Susana Somali

Menolong Tanpa Pamrih, Sosok Inspiratif Susana Somali

 

sosok-inspiratif-susana-somali

Anjing dan kucing banyak menjadi peliharaan dalam rumah pemiliknya, diberi makan, tempat tidur khusus, mainan, dimandikan, dan diberikan perawatan kesehatan. Namun anjing dan kucing banyak yang terlantar di jalanan. Mereka mencari cara bertahan hidup sendiri di tengah keramaian yang tidak memperdulikan mereka dan bahkan sebagian orang menganggap mereka hanya penggangu. Tidak jarang juga anjing dan kucing yang di jalanan menerima perlakuan kasar seperti ditendang, dilempari batu, disiram air, sampai ditabrak dengan kendaraan. 

Hal-hal tersebut yang mengusik hati seorang dokter alumni Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran membuat sebuah shelter atau penampungan untuk anjing dan kucing yang terlantar. Dokter Susana Somali sejak kecil suka memelihara hewan, menolong anjing dan kucing yang tertabrak atau terlantar. 

Baca juga: Kuat, Berani, Canggih, Sosok Letda Ajeng Tresna

Setelah bertumbuh dewasa dan berkeluarga, kepedulian Dr. Susan pada anjing dan kucing yang terlantar terus berlanjut hingga mendirikan Pejaten Shelter di atas tanah keluarganya.

Dr. Susan tahu betul pengaruh kultur masyarakat Indonesia terhadap keberlangsungan hidup anjing dan kucing yang terlantar. Ia mengatakan bahwa kucing liar masih bisa bertahan hidup lebih baik dibandingkan anjing liar. Anjing liar rentan disiksa manusia, mulai dipukuli, dilempari batu hingga diracun. Hal itu juga yang menyebabkan kucing terlantar dilakukan strelisasi terlebih dahulu baru dilepaskan ke jalanan. Jadi dalam Pejaten Shelter banyak ditemukan anjing terlantar dibandingkan kucing.

 pejaten-shelter-susana-somali

Berapa Banyak Anjing dan Kucing yang Ada di Pejaten Shelter?

Awalnya di Pejaten Shelter, Dr. Susan menampung 70 anjing yang berkeliaran di jalan. Anjing tersebut dimandikan, diberi makan, diberikan ruang, divaksinasi, dan perawatan kesehatan lainnya untuk tetap sehat. Kemudian ia juga menerima kucing liar. 

2 tahun berjalan, jumlah anjing dan kucing bertambah 10 kali lipat meski setiap tahun ada anjing dan kucing yang meninggal. Hingga sekarang, terdapat sekitar 800 anjing, belum termasuk dengan kucing.

anjing-pejaten-shelter

Biaya yang Dibutuhkan untuk Merawat Anjing dan Kucing dalam Sebulan?

Dr. Susan sangat memperhatikan strelisasi, alasannya untuk mengendalikan populasi anjing dan kucing yang terlantar.

Biaya yang pasti dikeluarkan untuk merawat anjing dan kucing adalah biaya makan, vitamin, vaksin, pemberian strelisasi dan gaji beberapa pekerja. Total biaya yang dihitung untuk merawat seekor anjing dalam sebulan sebesar Rp 250.000,- Apabila dikalikan dengan 800 ekor, maka dalam sebulan biaya totalnya bisa melebihi Rp 200.000.000,-.

Dari total biaya tersebut hanya 10% hingga 20% yang dapat mengandalkan donasi, sisanya berasal dari kantong pribadi Dr. Susan.

donasi-pejaten-shelter

Apakah Banyak juga yang Ingin Mengadopsi Anjing dan Kucing?

Dr. Susan dengan jujur mengatakan adopsi peluangnya sedikit, 1 dibanding 100. Karena terlalu sedikit orang yang ingin mengadopsi, maka hewan tersebut kebanyakan akan selamanya menetap dalam Pejaten Shelter. 

Pejaten Shelter lebih cocok dinamakan suaka atau tempat perlindungan (sanctuary) dibandingkan tempat penampungan, karena seumur hidup hewannya akan hidup disini.

Apa yang Membuat Dr. Susan Bertahan dan Menjalankan Pejaten Shelter?

Dr. Susan meyakini bahwa yang dia usahakan merupakan penggilan jiwanya dan dapat membawa kebaikan di masa depan. Tentunya, dukungan dari keluarga merupakan faktor penting, karena anak dan suaminya juga sama-sama penyayang anjing.

Harapan Dr. Susan adalah tidak ada anjing dijalan dan tidak ada penyiksaan binatang. Tidak ada lagi orang makan anjing. Seandainya terpaksa pun, dibunuhnya dengan cara yang tidak sadis. Karena ia mendengar mitos bahwa daging anjing akan lebih enak dengan membunuhnya dengan siksaan.

Di samping itu, perlindungan dan perawatan anjing yang ia lakukan, memberikan manfaat bagi manusia, yaitu mencegah penyebaran rabies dari anjing yang terlantar.

susana-somali-sosok-inspiratif

Berikut perkataan Dr. Susan sebagai penutup cerita inspirasi ini: 

"Bagi saya, apa yang saya lakukan ini panggilan. Kalau saya bergerak dan Indonesia akan berubah, saya akan lakukan walau perubahannya 0,001%. Saya tidak melihatnya sekarang. Saya melihatnya dua generasi mendatang. Seperti Kartini, tidak bisa mengubah diri sendiri, tetapi ia membuat perubahan 50 tahun ke depan. Saya sendiri mungkin tidak akan bisa melihat (hasil) kerja saya nanti, tetapi saya yakin 20 - 30 tahun ke depan akan ada perubahan."

Ke depannya pasti akan ada artikel-artikel menarik dan insightful lainnya. Jadi subscribe Newsletter Mineola dan ikuti sosial media Mineola yaa.

Subscribe here.

FacebookInstagramPinterest.


1 comment


  • Yun

    good


Leave a comment